Halsel – haluanmalutnews.com. Warga Desa Kasiruta, Kecamatan Kasiruta Timur, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, mempertanyakan kejelasan pembangunan SD Negeri 173 yang hingga kini belum juga rampung meski proyek tersebut mulai dikerjakan sejak tahun 2023.
Proyek pembangunan ruang belajar sebanyak empat lokal serta satu unit MC dengan pagu anggaran lebih dari Rp900 juta itu sebelumnya diharapkan mampu meningkatkan kualitas sarana pendidikan bagi siswa di sekolah tersebut.
Namun hingga saat ini, kondisi bangunan masih terlihat setengah jadi dan belum dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah bagian bangunan tampak belum terselesaikan. Aktivitas pekerjaan juga sudah lama tidak terlihat di lokasi proyek, sehingga memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat terkait penyebab terhentinya pembangunan sekolah tersebut.
Salah satu warga Desa Kasiruta mengaku kecewa karena pembangunan yang diharapkan dapat menunjang kebutuhan pendidikan anak-anak justru belum menunjukkan kepastian penyelesaian.
“Kami tidak tahu kendalanya apa, tetapi sudah terlalu lama dibiarkan seperti ini. Anak-anak kami membutuhkan fasilitas belajar yang layak,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).
Menurut warga, keterlambatan pembangunan SD Negeri 173 berdampak langsung terhadap proses belajar mengajar. Para siswa hingga kini masih menggunakan fasilitas lama yang dinilai kurang memadai, sementara bangunan baru yang diharapkan menjadi solusi belum dapat digunakan.
Masyarakat juga mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait agar segera memberikan penjelasan terbuka mengenai perkembangan proyek tersebut. Warga meminta adanya transparansi terkait penggunaan anggaran, progres pekerjaan, hingga pihak pelaksana proyek.
“Kalau memang ada kendala, pemerintah harus menjelaskan kepada masyarakat supaya semuanya jelas dan tidak menimbulkan dugaan yang berbeda-beda,” kata warga lainnya.
Selain itu, warga berharap pembangunan sekolah tersebut dapat segera dilanjutkan dan diselesaikan sesuai rencana awal. Mereka khawatir proyek tersebut akan menjadi bangunan mangkrak yang pada akhirnya merugikan masyarakat serta menghambat akses pendidikan yang layak bagi anak-anak di Desa Kasiruta.
Warga juga menyoroti dugaan penggunaan anggaran proyek yang disebut telah habis sebelum pekerjaan mencapai 100 persen. Warga juga menduga bangunan tersebut dilanjutkan dengan anggaran Dana Bos
Selain itu, menurut informasi yang berkembang di masyarakat, upah tukang bangunan sebesar kurang lebih Rp20 juta hingga kini belum dibayarkan. Kondisi tersebut menambah keresahan masyarakat yang berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan persoalan pembangunan SD Negeri 173.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait penyebab keterlambatan pembangunan sekolah tersebut.
Masyarakat Desa Kasiruta kini menunggu kepastian dan tindakan nyata dari pemerintah demi memastikan hak pendidikan anak-anak di wilayah itu tetap terpenuhi secara layak.
(Ay/Red)












